Selasa, 10 Mei 2011

Renungan


Kasih Seorang Ayah
Diambil dari sebuah kisah nyata di Amerika Serikat, dan sebuah kisah nyata dalam kehidupan kita.

Love suffers long and is kind; love does not envy; love does not parade itself, is not puffed up; does not behave rudely, does not seek its own, is not provoked, thinks no evil; does not rejoice in iniquity, but rejoices in the truth; bears all things, believes all things, hopes all things, endures all things.
1 Chorinthians 13:4-7 (NKJV)

Adalah seorang muda yang taat berdoa yang masih berpacaran dengan seorang gadis muda juga  yang baik hati. Kedua orang ini adalah dua orang konglomerat kaya. Sebelumnya mereka pun selalu berdoa, “Tuhan berikanlah aku pasangan yang menurut Engkau terbaik”. Setelah mereka menikah, keadaan berubah. Maksudnya, doanya berubah menjadi, “Tuhan, berikanlah kami anak yang terbaik buat kami”. Tetapi setelah 7 tahun mereka menikah, mereka tidak mempunyai anak.

Setelah mereka berdoa dan berdoa, akhirnya mereka mempunyai anak. Dan keadaan, maksudnya doa mereka berubah lagi, “Tuhan, biarlah anak ini menjadi anak yang terbaik bagi kami”. Dan benar, setelah 9 bulan istrinya mengandung, lalu lahirlah seorang anak bagi mereka. “Anak laki-laki,Pak”, kata dokternya. Sang Ayah langsung melonjak kegirangan.

Tetapi setelah 3 hari, sang dokter memanggil sang ayah ke rumah sakit. Lalu si dokter berkata, “Pak, dengan berat hati saya harus menyampaikan kabar buruk kepada Anda”. Si ayah membalas, “Kabar apapun, saya siap menerimanya, Pak dokter. Saya siap menghadapi yang terburuk”. “Dan hal yang buruk itu adalah, bahwa putra Anda tidak akan bertumbuh dengan normal seperti anak-anak yang lain”, jelas si dokter. “Apa maksus dokter?”, si ayah bertanya. Dokter melanjutkan, “Putra Anda menderita sesuatu kecacatan yang tidak dapat disembuhkan. Yaitu cacat mental yang serius”. Sang ayah lalu menitikkan air mata dan berkata sambil berdoa, “Tuhan, apapun yang Engkau berikan kepadaku, aku tahu semuanya baik dan Engkau tidak pernah mencelakakan anak-anakMu”.

But above all these things put on love, which is the bond of perfection.
Colossians 3:14 (NKJV)

Sejak itu, kedua orang tua itu membeli ranjang bayi khusus anak mereka dan ditaruh di samping ranjang mereka berdua. Mereka selalu kesulitan untuk mengurus anak mereka tersebut, tetapi mereka menanggung semuanya itu. Beranjak keluar dari umur batita, mereka membuat kamar khusus untuk anak mereka tersebut.
Anak itu menjadi anak yang sangat istimewa dan menjadi anak mereka satu-satunya. Mereka memberikannya segala yang dia mau dan dia perlukan. Mainan macam-macam komputer, boneka dan lain-lain. Dan jika si ayah selesai pulang kerja, ia selalu mengajak si anak bermain. Dengan mainan yang ada atau jika ayahnya membawa mainan yang baru untuk anaknya.

Setiap ayahnya pergi keluar, misalkan untuk berpesta dengan rekan kerjanya atau teman-temannya yang sedang berbahagia, ia selalu membawa serta istri dan anaknya. Dan di depan rekan-rekan kerjanya atau teman-temannya, ia selalu membanggakan anaknya. “Woi anak gw nih.. gantengkan?”. Selalu ia mengatakan demikian, karena ia tahu, anaknya ini adalah anugerah Allah yang terbesar dalam dirinya. Dan ia sangat mengasihi anak ini, karena ini anaknya. Meskipun ia cacat.

Tetapi setelah anak itu bertumbuh makin dewasa, kecacatannya semakin kelihatan. Kemampuan komunikasinya kurang, jika terjemut matahari sebentar mulutnya akan keluar busa, dan jika sedang berbicara kadang air liurnya menetes. Tetapi meskipun begitu, kedua orang tua tetap sangat sangat menyayangi anak mereka yang cacat itu.

Suatu hari, pagi-pagi sekali anak cacat ini sudah bangun, sekitar pukul 04.30. dalam pikirannya, “Hari ini, aku pengen buat sarapan yang speeeeesial buat papa”. Setelah doa pagi, ia pergi menuju dapur. Ia mengambil potong roti, lalu menaruhnya dalam oven, dan menyetek waktunya sampai 10 menit. Tentu saja hasilnya gosong. Setelah bunyi “ting”, maka anak cacat itu menaruhnya di atas sebuah piring. Lalu ia mengoleskan selai kacang keju yang (amat) sangat banyak, sambil berpikir, “Harus kasih yang baaaanyak buat papa, biar ueeeeeenak rasanya”.

Setelah itu, ia berlari ke kulkas, karena ayam sudah berkokok, lalu mengambil sebutir telur. Dan lalu memanaskan panci di atas kompor, lalu memecahkan telur tersebut dan menuangkan isinya ke dalam panci tersebut, dan langsung menaruhnya di atas piring yang lain, sambil berpikir, “Kalo aku buatnya cepet, pasti papa seneng, karena gak perlu nunggu lama”. Dan lalu ia bergegas mengambil cangkir, dan mengambil toples kopi bubuk. Jika kita hanya membutuhkan 2 sendok teh, anak cacat ini memakai 5 sendok teh kopi bubuk, sambil berpikir, “Kalau 2 sendok teh saja sudah wangi, apalagi 5, pasti papa suka”. Jadilah kopi terasa seperti kopi tua itu.

Lalu si anak cacat ini mengambil nampan, lalu dengan hati-hati tanpa menimbulkan bunyi macam-macam, menaruh semua piring yang di atasnya ada roti gosong dan telur mentah dan cangkir kopi tua tersebut, dan menuju kamar ayahnya. Lalu ia membangunkan ayahnya, dan lalu berkata begini, “Papa, bangun dong, aku udah buat sarapan yang spesiaaaaaaaaall buat papa”. Lalu ayahnya bangun dan melihat dan menghirup aroma “sedap” dari roti gosong, telur mentah dan kopi tua tersebut. “Wah pasti enak nih”.
Sebelum si ayah melipat tangannya untuk berdoa, si anak berkata, “Pa, kali ini aku doain makanan ini buat papa ya, ‘kan biasanya papa yang doain. OK ya pa??”. Sebelum ayahnya sempat mengangguk, si anak cacat ini sudah melanjutkan, “Papa ikutin ya: Tuhan Yesus, terima kasih, atas makanan ini, yang telah Tuhan sediakan. Terima kasih Tuhan,amin”.

Lalu ayahnya mencoba roti gosong tersebut, dan setelah ayahnya mengunyah gigitan pertama, si anak cacat dengan polosnya bertanya, “Enak kan pa??”, “Iya, enaaaakk sekali”, lalu melanjutkan makan. Setelah roti tersebut habis, ia memakan telur mentah tersebut. Dan si anak bertanya, “Telurnya enak kan pa?? Aku yang masakin semuanya loooo....”. Si ayah berkata, “Wah kamu yang masak?? Enak sekali nak”. Lalu si ayah melanjutkan memakan telur mentah tersebut. Setelah semua makanan habis, ia mencoba kopi tua itu. Si anak bertanya lagi, “Harum dan enak kan pa??”. Si ayah tanpa ekspresi mual apapun, membalasnya, “Pahit, tapi papa suka sekali”. Dan dengan lugunya si anak menjawab, “Ya iya dong pa, kopi kan pahit..”, karena ia mengira ayahnya sedang bercanda.

Setelah semuanya habis, si ayah membelai kepala anaknya dan berkata, “Ray, kamu tahu nggak..”, “Nggak paa”, potong si anak cacat tersebut. Lalu si ayah melanjutkan, “Kalau semua masakan kamu enaaaakk sekali”. Lalu si anak menjawab, “Iya dong pa, kan aku yang masakin spesiaaaall buat papa”. Lalu si ayah berkata lagi, “Kamu tahu nggak kenapa papa senang hari ini?”. Si anak sambil menggelengkan kepala, “Nggak tahu pa..”, “Karena hari ini kamu udah buat sarapan yang spesiaaaaall buat papa”. Lalu si ayah melanjutkan, “Ray, kamu tahu nggak kenapa papa syaaaaaaaaang sekali sama kamu?”. Lalu dengan lugunya anak cacat itu menjawab, “Nggak tahu pa..”, “Karena kamu anak papa yang udah bikin papa seneeeeeeeeng banget”. “Raymond juga sayaaaaaaaang banget sama papa”. Lalu sambil menitikkan air mata, ia memeluk anaknya yang cacat itu, dan berkata kepada anaknya, “Terima kasih ya nak, karena telah memasakan sarapan roti, telur, dan kopi ini buat papa. Semuanya terasa, enaaaaak sekali”. Lalu si anak menjawab, “Sama-sama papaaah..”. Dan si ayah lalu berdoa dalam hatinya, “Tuhan terima kasih, karena Engkau sudah memberikan anak yang sangat sayang padaku..”.

Anda tahu, siapakah anak cacat dan ayah tersebut?? Kamulah, yang sedang membaca adalah anak yang cacat tersebut. Seperti anak cacat itu memberikan kepada ayahnya, roti gosong, telur mentah dan kopi tua, juga kita, memberikan apa yang tidak sempurna dari kita untuk Tuhan. Roti gosong, telur mentah, dan kopi tua, yang merupakan apa yang tidak sempurna dari kita, misalnya, pujian dan kehidupan kita, Tuhan terima semuanya dengan senang hati, karena Tuhan tahu, bahwa kita melakukannya dengan segenap hati kita yang tertuju pada Bapa di sorga, dan kita ingin melakukan yang terbaik untuk Bapa kita di sorga. Ingat ini: Bapamu di sorga menyayangimu, apa adamu, apa yang ada padamu, apapun yang engkau berikan dengan segenap hatimu, merupakan sebuah persembahan yang harum. Karena Bapamu mengasihi kamu, sampai-sampai Ia sendiri mengirimkan Anak-Nya untuk turun ke dunia, untuk menebuskan dan mematahkan segala kutuk atas diri kita, dan untuk membayar lunas sgala hutang dosa kita dan menebus dosa kita dari maut. Ingat ini: Bapamu di sorga mengasihimu..


*Disadur dari warta PD Gunadarma

Tidak ada komentar:

Posting Komentar